Am I Sterdam (part 3): The Last Destination, The Hague

DH3Catatan: sebelum melanjutkannya, pastikan kamu telah membaca keseruanku selama di Belanda part 1 dan part 2..

●●●

Satu malam seusai berakhirnya workshop, aku melanjutkan perjalanan ke Den Haag (The Hague), menikmati perpanjangan hari menginap. Aku menumpang di kamar salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang studi S2 di ISS. Olehnya, aku dipinjami sepeda untuk berkeliling kota. Aku menikmati Den Haag sebagai salah satu pusat mode di Belanda, ditandai dengan banyaknya toko-toko pakaian branded di kawasan pusat kota. Namun begitu, kota ini juga banyak dihiasi gedung-gedung pemerintahan. lanjut baca

Am I Sterdam (Part 2): UU Desa dan Dinamika-Dinamika Itu

Kasteel Oud-Poelgeest; sumber foto: dazzlingphotos.nl
Kasteel Oud-Poelgeest; sumber foto: dazzlingphotos.nl

Sebagaimana janjiku sebelumnya, kali ini aku akan melanjutkan kisahku jalan-jalan mengikuti workshop bertema UU Desa di Belanda. Bagi yang baru mampir, ada baiknya membaca tulisanku Am I Sterdam?” (Part 1) terlebih dahulu.

●●●

Pada hari yang sama, aku memulai perjalanan dari Amsterdam menuju Leiden menggunakan kereta sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Ini memakan waktu kurang lebih setengah jam, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke lokasi menginap -yang juga merupakan tempat diselenggarakannya workshop-. Leiden rupanya lebih sepi dibandingkan Amsterdam. Namun begitu, aku merasa kota ini sehat dan menyehatkan karena banyak berdiri kampus-kampus bertema botani, biologi, dan medikal, serta ruang-ruang terbuka hijau dalam bentuk taman, semak, bahkan belantara hutan. lanjut baca

Am I sterdam?

Holand 1Kalau kamu penasaran, aku bersedia menceritakan pengalamanku selama sepekan di The Netherlands. Kau tahu, ini adalah kali pertamaku menginjakkan kaki ke negeri itu sendirian. Ya, sendirian, tanpa pasangan, no backup. Tidak seperti empat tahun lalu saat DAAD menerbangkanku ke Jerman, kali ini agendanya lebih serius, yaitu jalan-jalan untuk sebuah workshop yang diselenggarakan oleh KITLV terkait pelaksanaan UU Desa. Eits, jangan terburu-buru mendesakku untuk bercerita tentang materi workshop itu. Tulisan ini justru didedikasikan pada hari pertamaku yang membawa misi menyesatkan diri di Kota Amsterdam. lanjut baca

RUU (Siapa) Arsitek

image source: inhabitat.com
image source: inhabitat.com

“Saya pikir harus juga utuh membaca dokumennya, termasuk tentang siapa yang disebut arsitek dalam UU tersebut. Toh, pada situasi saat ini, perencanaan pembangunan, kota/desa, memang tidak untuk dieksklusifkan bagi lulusan planologi saja. Orang ekonomi, arsitek, sosiologi yang memang mampu, saya pikir berhak memberikan layanan terhadap mati hidupnya sebuah kota. Sama seperti bekerja di lembaga penelitian kemiskinan yang secara kasat mata adalah domain sosiohumaniora tetapi bisa “diselundupi” anak plano. Alternatif lain, kalaupun kita greget(an), kenapa tidak mendorong hadirnya RUU Perencana Kota dan Wilayah?”

Sebuah grup alumni seketika ramai saat salah satu anggotanya memposting penggalan ayat RUU yang konon telah masuk dalam agenda prolegnas tahun ini. Itu adalah RUU Arsitek yang semakin ke sini memicu serangan balasan dalam bentuk kampanye berhastag #savekota #saveplanologi, catatan kritis, atau paling banter ikutan nyinyir di media sosial. lanjut baca

Menggeser Dogma Gusur PKL

Sumber foto sebagai ilustrasi: ciputranews.com
Sumber foto sebagai ilustrasi: ciputranews.com

Saya ingat bagaimana dulu, sekitar tahun 2010, sebuah tugas kampus meminta saya untuk mendeskripsikan wajah kota melalui pengamatan langsung di salah satu ruas jalan di Yogyakarta. Dalam tugas itu, saya memilih Jl. Terban hingga Jl. Colombo yang letaknya persis di sebelah selatan Kampus UGM. Salah satu pemandangan menarik yang saya angkat adalah fenomena pedagang kaki lima (PKL) yang mencaplok – dalam istilah akademik disebut memprivatisasi– trotoar yang secara normatif disediakan untuk pejalan kaki. Di lokasi ini, sebuah kios semi permanen yang juga menjual bensin eceran, serta tukang tambal ban di sebelahnya, saya potret berkali-kali dari berbagai sudut, untuk mengesankan bahwa mereka benar-benar menyengsarakan pejalan kaki. lanjut baca