Jangan Mau Tinggal di Jakarta!

Posted by Rendy Adriyan Diningrat on June 24, 2011
Cerita Kota

Impian kehidupan yang layak di pusat kota seperti Jakarta nampaknya banyak menjadi incaran kaum migran. Berada di tengah gaya hidup modern merupakan harapan besar untuk merasakan megahnya sang ibukota. Alasan yang sering muncul ialah karena pekerjaan. Ya, Jakarta memang menawarkan ribuan peluang kerja. Hampir satu dua halaman di tiap surat kabar tersedia kolom bagi lowongan pekerjaan.

Hidup ditengah kota yang sudah terkontaminasi liberalisme, tentu memutlakkan adanya  persaingan. Siapa yang kuat, dialah yang menang. Strategi dan kualitas menjadi indikator penting penentu kemenangan. Dia yang tak cerdik, bersiaplah untuk terlindas kejamnya arus kompetisi.

Bagi Anda yang ingin memulai hidup di Jakarta, jangan dulu terpedaya dengan kemegahannya sebelum mengetahui permasalahan yang terus menghantui kota ini. Berikut beberapa gambaran (masalah) ibu kota yang perlu diantisipasi keberadaannya :

Padat Penduduk Bikin Sesak Ibu Kota

Sampai saat ini Statistik Indonesia mencatat Jakarta sebagai wilayah perkotaan terpadat nomor satu di tanah air. Dengan kisaran penduduk sebanyak 9 juta jiwa di tahun 2009, setidaknya terdapat 13 ribu manusia akan dijumpai tiap kilometerperseginya. Diperkirakan jumlah ini akan meningkat hingga 12 juta jiwa pada tahun 2020 mendatang. Alangkah sesaknya wilayah ini, bukan?Jumlah yang semakin meningkat ini tentu memicu bertambahnya kebutuhan hidup seperti tempat tinggal dan kendaraan.

Hujan Deras Ciptakan “Danau” Terluas

Meledaknya permintaan tempat bermukim, menyebabkan eksistensi lahan terbuka semakin mengkhawatirkan.Amanah UU No. 26 Tahun 2007 mengenai aturan RTH minimum pun semakin diingkari. Daerah tangkapan air Jakarta terancam menipis. Bila tak terkendali, Jakarta akan menjadi juara berturut-turut sebagai langganan banjir tingkat internasional.

Banjir yang terjadi di ibu kota bukanlah perkara yang menyenangkan. Banyak dari penduduk yang mengaku stress saat berhadapan dengan banjir. Bagaimana tidak, banjir bisa membuat segala aktifitas kehidupan seperti sekolah, perkantoran, dan perdagangan menjadi sangat terganggu.Belum lagi dampak yang bisa ditimbulkan seperti penyakit menular, hancurnya fasilitas umum, rusaknya perabotan pribadi, dan lain sebagainya.

Macet, Teman Kerja Paling Setia

Saat ini saja, kemacetan yang tak kunjung selesai terus menjadi keluhan para pengguna jalan ibu kota. Berdasarkan survei, jumlah kendaraan keluar masuk Jakarta sekitar 1,3 juta. Apalagi bila jumlah ini terus mengalami peningkatan seiring bertambahnya penduduk. Prediksi yang mengatakan bahwa Jakarta akan mengalami macet total saat membuka pintu rumah pun bisa jadi kenyataan.

Angka pertumbuhan kendaraan berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun 2009 mencapai 12,31 persen per tahun dengan jumlah kendaraan hingga 5,7 juta unit. Dari jumlah tersebut, 5,6 juta merupakan kendaraan pribadi dan 87.9876 angkutan umum. Total perjalanan per hari pun mencapai 20,7 juta perjalanan.

Kemacetan mampu menciptakan kepulan polusi udara yang rentan terhadap timbulnya penyakit pernapasan. Apalagi disiplin berlalulintas yang banyak dilanggar, menyebabkan kota ini semakin tak manusiawi. Inilah yang menyebabkan kemacetan menambah stress beratnya kehidupan kota. Maka dari itu, tak sedikit penglaju yang mengeluh macet dengan sindiran “tua di jalan”.

Jakarta memang menawarkan berbagai kemegahan dan kehidupan yang layak.Sayangnya hal tersebut masih diiringi dengan kompleksitas masalah yang tak kunjung terselesaikan. Dari segi kualitas lingkungan pun, Jakarta menduduki predikat terbawah se-Indonesia meliputi kualitas udara, air, dan tutupan hutan (sumber : Bappenas – ESP Danida tahun 2009). Sudahkah cukup membuat Anda tergambarkan dengan hiruk-pikuk Jakarta?Jika Anda belum mampu menghadapinya, tak salah bila menunda niat bermigrasi hingga benar-benar siap. Jakarta pun akan terus mencari solusi demi kehidupan yang lebih manusiawi.

Unduh versi .pdf  disini

Tags: , , , , ,

Rendy A. Diningrat adalah Mahasiswa Magister Perencanaan Kota dan Daerah UGM, yang saat ini juga merupakan Ketua Komunitas Pemuda Tata Ruang (PETARUNG)

Leave a Reply